Sabtu, 19 September 2015

Karakter Dan Pola Pikir Kristiani-PGSD sems 1



Karakter Dan Pola Pikir Kristiani

Kompetensi Dasar:
Mengalami proses pertumbuhan sebagai pribadi yang dewasa yang memiliki karakter yang kokoh dengan pola pikir yang komprehensif dalam segala aspek
Referensi Alkitab:
Rom 12:1-3,
Ef 4:15-17, 1 Yoh 3:10, Gal 5:
Pengantar
Efesus 4:15 mengingatkan pentingnya setiap orang yang percaya kepada Kristus untuk terus bertumbuh dalam segala hal ke arah Kristus. Pertumbuhan tersebut mencakup perubahan pola pikir, yang akan berpengaruh pada perubahan perilaku dan karakter.
Apakah yang dimaksud dengan karakter Kristen? Mengapa kita perlu bertumbuh dalam karakter? Bagaimana kita bisa bertumbuh dalam karakter Kristen?
Disadari atau tidak. setiap orang mempunyai pola pikir atau pola pandang yang akan mempengaruhi cara kita memandang kehidupan dan realita. Pola pikir adalah seperti satu set lensa yang akan mempengaruhi pandangan kita atau mengubah dan menyesuaikan cara kita memandang dunia sekeliling kita. Pola pikir atau pola pandang kita dipengaruhi oleh pendidikan, polah asuh, budaya dimana kita tinggal, buku, media, film-film yang kita serap, dan sebagainya. Bagi banyak orang, pola pikir mereka hanyalah mereka serap dari pengaruh budaya sekitar dimana mereka berada. Mereka tidak pernah berpikir secara strategis mengenai apa yang mereka yakini dan tidak mampu memberikan jawaban kepada orang lain mengenai apa yang mereka yakini.
A. Karakter Kristen
Menggambarkan karakter sebagai sifat manusia pada umumnya, seperti pemarah, sabar, pemaaf, dan sebagainya. Maka karakter Kristen adalah sifat yang seharusnya ada pada seorang Kristen. Sifat yang bagaimanakah yang seharusnya ada pada diri seorang Kristen?: Ef 4:15 mengarahkan kita yaitu kita harus bertumbuh dalam segala hal (termasuk karakter) ke arah Kristus. Dengan demikian, maka kita perlu mewarisi dan menyatakan sifat-sifat Kristus dalam hidup kita. Ini adalah hal yang sewajarnya, karena ketika kita percaya dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita disebut sebagai anak-anak Allah. Seorang anak tentunya mencerminkan sifat orang tuanya.
B. Alasan perlunya bertumbuh dalam karakter Kristen
Sebuah peradaban akan menurun apabila terjadi demoralisasi pada masyarakatnya. Nilai-nilai moral yang diajarkan akan membentuk karakter (akhlak, sifat) mulia yang merupakan fondasi penting bagi terbentuknya sebuah tatanan masyarakat yang beradab dan sejahtera.  Lord Channing mengatakan ‘The great hope of society is individual character’. Sebagai anak bangsa kita berpikir dan bertanya ‘Kenapa dalam sekejab bangsa ini menjadi bangsa yang terpuruk dan kehilangan harga diri? Krisis multidimensi yang berkepanjangan ini sebetulnya mengakar pada menurunnya kualitas moral bangsa yang dicirikan oleh membudayanya praktek KKN, konflik, meningkatnya kriminalitas, menurunnya etos kerja, dan banyak lagi.
Hubungan antara aspek moral dengan kemajuan bangsa juga dikemukan oleh Thomas Lickona, seorang professor pendidikan dari Cortland University. Ia mengungkapkan bahwa ada sepuluh tanda zaman yang harus diwaspadai, karena jika tanda-tanda itu sudah ada, maka berarti sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran. Tanda-tanda tersebut adalah: 1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, 2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk, 3) pengaruh peer grup yang kuat dalam tindakan kekerasan, 4) meningkatnya perilaku merusak diri seperti penggunaan narkoba, alcohol dan seks bebas, 5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk, 6) menurunnya etos kerja, 7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, 8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara, 9) membudayanya ketidakjujuran, 10) saling curiga dan kebencian di antara sesama. Jika diamati, kesepuluh tanda tersebut ada di Indonesia. Contoh:

C. Membentuk Karakter Kristen
Membentuk karakter tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Sebuah pepatah mengatakan, jika kamu melakukan suatu hal tertentu yang sama selama 21 hari maka kamu akan menuai kebiasaan. Kebiasaaan yang berkelanjutan akan membentuk sebuah karakter. Maka, pembentukan karakter adalah suatu proses yang dimulai dari adanya suatu pemahaman (membuka wawasan, memperbaharui akal budi – Rom 12:1-3), dilanjutkan dengan melakukan apa yang dipahami, dan melakukan secara berulang-ulang dengan konsisten.
  1. Membuka wawasan, memperbaharui akal budi
Apakah yang perlu kita pahami dalam pembentukan karakter Kristen? Pembentukan karakter Kristen adalah pembentukan identitas kita sebagai seorang Kristen. Telah dibahas salah satu alasan kita perlu mengembangkan karakter Kristen, yaitu karena kita adalah anak-anak Allah. Maka kita harus bertumbuh menjadi semakin serupa Dia. Dalam hal ini kita bisa meneladani Kristus (Fil 2:3-4), belajar berpikir dan bertindak seperti Kristus berpikir dan bertindak ketika Ia berada di tengah dunia ini.
Kita diciptakan serupa dan segambar dengan Allah, maka sebagai ciptaan baru kita perlu mencerminkan sifat-sifat Allah dalam kehidupan kita. Hidup baru atau ciptaan baru dalam Gal 2:20 dijelaskan meninggalkan masa lalu dan menjalani kehidupan baru yang arah dan tujuannya berbeda. Gal 5 membimbing kita agar kita tidak lagi hidup mengikuti keinginan daging tetapi keinginan Roh. Dengan cara demikian kita akan menghasilkan buah Roh yang Allah ingin lihat itu ada dalam kehidupan setiap anak-anakNya.
Dengan demikian, jika kita mau membentuk karakter Kristen dalam hidup kita, kita perlu belajar mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Mengenal pribadiNya, pikiran-Nya, kehendak-Nya, semuanya itu bisa kita lakukan ketika kita melalukan pembacaan dan perenungan Firman Tuhan dalam hidup sehari-hari.
2. Melakukan apa yang dipahami.
Tahu sesuatu, tidak identik dengan menjadi sesuatu. Ketika kita membaca Firman Tuhan, maka kebenaran itu memerdekakan kita. Tetapi kita hanya benar-benar merdeka, ketika kita melakukan Firman Tuhan dalam kehidupan kita. Dengan cara demikian kita menyatakan melawan daging dan tunduk kepada pimpinan Roh. Sehingga, kitapun terbebas dari keinginan daging yang mencoba menguasai kita (Gal 5:16-18).
Nah, bagaimana kita belajar melakukan apa yang kita pelajari dari Firman Tuhan? Pertama, belajar menyangkal diri di dalam kesulitan. Ketika ada kesulitan menghimpit, belajar untuk tidak membicarakannya kepada orang lain terlebih dahulu, melainkan harus menyangkal diri. Belajarlah untuk menanggung kesulitan itu sendiri. Jika kesulitan itu benar-benar tidak bisa kita atasi, kita boleh menceritakan (berbagi) kepada orang lain. Jika memang tetap tidak bisa, berdoalah kepada Tuhan dan percayalah Ia akan memberikan kekuatan ekstra kepada kita untuk menghadapi kesulitan itu.
      D. Sosialisasi Pendidikan Karakter
       -          Dibentuk sejak usia dini
       -          Peran Ortu dan lingkungan dominan
       -          Mengembangkan suara hati anak peke terhadap lingkungan
       -          Komitment orang tua membentuk karakter dgn nilai kekristenan
       -          Pemimpin harus punya komitment untuk meniru Kristus
       -          Karakter harus dikonsep secara ideal untuk generasi muda
       -          Memberi Norma yang dibakukan
       -          Memodelkan orang tua sebagai Panutan
       -          Diajarkan secara berulang-ulang
       -          Keaktifan anak untuk memilih Nilai
       -          Menjadi habit
       -          Interaksi keladanan dan membentuk kondisi lingkungan yang kondusif
       -          Orang tua harus memberi hidupnya bagi anaknya.


BAB II
Pola Pikir Kristiani
Beberapa definisi mengenai apa yang dimaksud dengan pola pikir atau pola pandang (world view). James Sire mengatakan ‘pola pandang adalah serangkaian asumsi yang kita pegang (sadar atau tidak sadar) mengenai bagaimana kita melihat dunia kita. Phillips dan  Brown  mengatakan bawaha pola pandang adalah suatu penjelasan dan penafsiran mengendai dunia dan penerapan dari aplikasi tersebut pada kehidupan. Singkatnya, pola pandang adalah pandangan terhadap dunia dan bagi dunia. Itulah sebabnya, pola pandang atau pola pikir digambarkan seperti lensa atau kacamata.
Pentingnya pola pikir
Karena pola pikir itu bagaikan kacamata yang akan mengarahkan kita dan mempengaruhi kehidupan dan tindakan kita, maka seperti halnya kita perlu memilih kacamata yang tepat, mempunyai pola pikir yang benarpun dibutuhkan. Jika mempunyai pola pikir yang salah, dampaknya bisa buruk bahkan mungkin merusak diri atau lingkungan.
Arthur Holmes menyatakan bahwa ada empat pentingnya pola pikir: ‘untuk menyatukan pikiran dan kehidupan,  untuk mendefinikan kehidupan yang baik dan menemukan harapan dan makna hidup, untuk memberikan bimbingan pada buah pikiran, dan memberikan bimbingan pada setiap
tindakan kita. Selain itu kita perlu mempunyai pola pikir yang baik untuk menolong kita menghadapi multi budaya yang semakin berkembang. Masuk dalam era globalisasi, kita dibombardir dengan berbagai budaya berikut pola pikir yang ada dibaliknya. Semua menganggap diri benar dan menyatakan budaya tersebut sebagai kebenaran. Kita ditantang untuk memilah pola pikir yang bercampur aduk itu dengan hikmat dan menemukan kebenaran yang hakiki atau kita akan terseret oleh arus dunia tanpa tahu dimana kaki harus berpijak. Pola pandang yang benar akan menolong kita dengan mengarahkan kita dengan melatih akal budi kita secara kritis. Rm 12:1-3 mengingatkan kita agar memperbaharui akal budi sehingga kita bisa memilah dan memilih apa yang baik, yang benar dan yang berkenan kepada Allah. Itulah ibadah kita yang sejati. Maka, ibadah yang sejati dimulai dengan pembaharuan akal budi, pembaharuan pola pikir. Karena Pola pikir akan mempengaruhi hati, kehendak, dan dengan demikian mempengaruhi keputusan dan tindakan yang kita ambil. Pola pikir akan mengarahkan arah hidup, kemana kita melangkah.
Pola-pola pandang adalah bagian kehidupan kita yang kita lihat dan dengar sehari-hari entah kita sadari atau tidak. Contohnya, film, televise, musik, majalah, koran, pemerintahan, pendidikan, ilmu, seni, dan berbagai aspek budaya lainnya dipengaruhi oleh polah pandang. Jika kita mengabaikan pentingnya pola pandang, maka kita mengabaikan kehancuran atau keterhilangan yang akan kita tuai.
…….
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan
Peran Agama Kristen diharapkan menghasilkan dapat menghasilkan individu-individu yang menjadi garam dan terang ditengah-tengah masyarakat yang ditekankan dalam bentuk pendidikan nilai (budi pekerti atau value education), memeliki kesadaran berani mengambil sikap positif demi masa depan bangsa yang bertujuan untuk mewujudkan warga negara yang baik (Good Cetizen) dengan kriteria bersedia memberikan hidupnya untuk kepentingan bangsa dan negara sesuai dengan profesinya masing-masing.
 Nilai agama yang diberikan, harus diintegrasikan dalam seluruh jiwa dan melekat pada setiap individu seperti nilai kebebasan, persamaan, persaudaraan, kesatuan (liberty, equality, fraternity, unity), demokrasi-demokratisasi, kebangsaan, kebhinekaan, pluralisme.
Demikian juga dengan peran agama dalam pembentukan karakter individu itu sendiri merupakan hal yang sangat penting guna menumbuhkembangkan iman kerohanian masing-masing pribadi agar sesuai dengan karakter Tuhan itu bagaimana sebenarnya.
 Yesus sendiri merupakan tokoh pluralisme sejati, Ia sendiri telah meneladani murid-muridnya untuk mengasihi sesama manusia seperti dirnya sendiri. Melalui perumpamaan Orang Samaria yang baik hati, Ia telah menjelaskan sikapnya bahwa sebagai warga masyrakat pengikutnya harus mengasihi sesama dengan totalitas hidupnya, tidak memandang suku, antar golongan, ras dan agama.
 Oleh karena itu pendidikan pluralisme merupakan tututan yang harus ditindaklanjuti oleh setiap orang Kristen dalam rangka misi sebagai pembawa kabar damai sejahtera dan damai sejahtera dalam hidupnya. PengajaranNya sangat peduli terhadap manusia; yang sakit disembuhkan, yang lapar dicukupkan, yang mati dibangkitkan, dan yang lumpuh bisa berjalan serta yang buta melihat. Injil pada dasarnya monolak agama verbalistik, formalisme, tetapi mengutamakan iman dan perbuatan. Ajaran Yesus memerintahkan agar setiap muridNya; mempu mengekspresikan imannya dalam kepedulian terhadap sesama manusia yang paling membutuhkan . Dengan demikian setiap pengikutnya terpanggil untuk mengahdirkan syalom Allah dalam kehidupan masyarakat merupakan salah satu hakekat iman Kristen.




DAFTAR PUSTAKA


http://abdain.wordpress.com/2010/01/03/pengertian-agama/
        http://www.google.co.id/#sclient=psy-ab&hl=id&site=&source=hp&q=KONTRIBUSI+PENDIDIKAN+AGAMA+KRISTEN+DALAM+MEMBENTUK+WATAK+ANAK+USIA+DINI&pbx=1&oq=KONTRIBUSI+PENDIDIKAN+AGAMA+KRISTEN+DALAM+MEMBENTUK+WATAK+ANAK+USIA+DINI&aq=f&aqi=&aql=&gs_sm=e&gs_upl=1442l1442l0l1766l1l1l0l0l0l0l0l0ll0l0&bav=on.2,or.r_gc.r_pw.,cf.osb&fp=c8d20b98c85fb91a&biw=1366&bih=542

Tidak ada komentar:

Posting Komentar