Karakter
Dan Pola Pikir Kristiani
Mengalami proses pertumbuhan sebagai pribadi yang dewasa yang memiliki karakter yang kokoh dengan pola pikir yang komprehensif dalam segala aspek
Referensi Alkitab:
Rom 12:1-3,
Ef 4:15-17, 1 Yoh 3:10, Gal 5:
Pengantar
Efesus 4:15 mengingatkan pentingnya setiap orang yang percaya kepada Kristus untuk terus bertumbuh dalam segala hal ke arah Kristus. Pertumbuhan tersebut mencakup perubahan pola pikir, yang akan berpengaruh pada perubahan perilaku dan karakter.
Apakah yang dimaksud dengan karakter Kristen? Mengapa kita perlu bertumbuh dalam karakter? Bagaimana kita bisa bertumbuh dalam karakter Kristen?
Disadari atau tidak. setiap orang mempunyai pola pikir atau pola pandang yang akan mempengaruhi cara kita memandang kehidupan dan realita. Pola pikir adalah seperti satu set lensa yang akan mempengaruhi pandangan kita atau mengubah dan menyesuaikan cara kita memandang dunia sekeliling kita. Pola pikir atau pola pandang kita dipengaruhi oleh pendidikan, polah asuh, budaya dimana kita tinggal, buku, media, film-film yang kita serap, dan sebagainya. Bagi banyak orang, pola pikir mereka hanyalah mereka serap dari pengaruh budaya sekitar dimana mereka berada. Mereka tidak pernah berpikir secara strategis mengenai apa yang mereka yakini dan tidak mampu memberikan jawaban kepada orang lain mengenai apa yang mereka yakini.
A. Karakter Kristen
Menggambarkan karakter sebagai sifat manusia pada umumnya, seperti pemarah, sabar, pemaaf, dan sebagainya. Maka karakter Kristen adalah sifat yang seharusnya ada pada seorang Kristen. Sifat yang bagaimanakah yang seharusnya ada pada diri seorang Kristen?: Ef 4:15 mengarahkan kita yaitu kita harus bertumbuh dalam segala hal (termasuk karakter) ke arah Kristus. Dengan demikian, maka kita perlu mewarisi dan menyatakan sifat-sifat Kristus dalam hidup kita. Ini adalah hal yang sewajarnya, karena ketika kita percaya dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita disebut sebagai anak-anak Allah. Seorang anak tentunya mencerminkan sifat orang tuanya.
B. Alasan perlunya bertumbuh dalam karakter Kristen
Sebuah peradaban akan menurun apabila terjadi demoralisasi pada masyarakatnya. Nilai-nilai moral yang diajarkan akan membentuk karakter (akhlak, sifat) mulia yang merupakan fondasi penting bagi terbentuknya sebuah tatanan masyarakat yang beradab dan sejahtera. Lord Channing mengatakan ‘The great hope of society is individual character’. Sebagai anak bangsa kita berpikir dan bertanya ‘Kenapa dalam sekejab bangsa ini menjadi bangsa yang terpuruk dan kehilangan harga diri? Krisis multidimensi yang berkepanjangan ini sebetulnya mengakar pada menurunnya kualitas moral bangsa yang dicirikan oleh membudayanya praktek KKN, konflik, meningkatnya kriminalitas, menurunnya etos kerja, dan banyak lagi.
Hubungan antara aspek
moral dengan kemajuan bangsa juga dikemukan oleh Thomas Lickona, seorang
professor pendidikan dari Cortland University. Ia mengungkapkan bahwa ada
sepuluh tanda zaman yang harus diwaspadai, karena jika tanda-tanda itu sudah
ada, maka berarti sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran. Tanda-tanda
tersebut adalah: 1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, 2) penggunaan
bahasa dan kata-kata yang memburuk, 3) pengaruh peer grup yang kuat dalam
tindakan kekerasan, 4) meningkatnya perilaku merusak diri seperti penggunaan
narkoba, alcohol dan seks bebas, 5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan
buruk, 6) menurunnya etos kerja, 7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang
tua dan guru, 8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara, 9)
membudayanya ketidakjujuran, 10) saling curiga dan kebencian di antara sesama.
Jika diamati, kesepuluh tanda tersebut ada di Indonesia. Contoh:
C. Membentuk Karakter Kristen
Membentuk karakter tidaklah semudah
membalikkan telapak tangan. Sebuah pepatah mengatakan, jika kamu melakukan
suatu hal tertentu yang sama selama 21 hari maka kamu akan menuai kebiasaan.
Kebiasaaan yang berkelanjutan akan membentuk sebuah karakter. Maka, pembentukan
karakter adalah suatu proses yang dimulai dari adanya suatu pemahaman (membuka
wawasan, memperbaharui akal budi – Rom 12:1-3), dilanjutkan dengan melakukan
apa yang dipahami, dan melakukan secara berulang-ulang dengan konsisten.
- Membuka wawasan, memperbaharui akal budi
Apakah yang perlu kita pahami dalam
pembentukan karakter Kristen? Pembentukan karakter Kristen adalah pembentukan
identitas kita sebagai seorang Kristen. Telah dibahas salah satu alasan kita
perlu mengembangkan karakter Kristen, yaitu karena kita adalah anak-anak Allah.
Maka kita harus bertumbuh menjadi semakin serupa Dia. Dalam hal ini kita bisa
meneladani Kristus (Fil 2:3-4), belajar berpikir dan bertindak seperti Kristus berpikir
dan bertindak ketika Ia berada di tengah dunia ini.
Kita diciptakan serupa dan segambar
dengan Allah, maka sebagai ciptaan baru kita perlu mencerminkan sifat-sifat
Allah dalam kehidupan kita. Hidup baru atau ciptaan baru dalam Gal 2:20
dijelaskan meninggalkan masa lalu dan menjalani kehidupan baru yang arah dan
tujuannya berbeda. Gal 5 membimbing kita agar kita tidak lagi hidup mengikuti
keinginan daging tetapi keinginan Roh. Dengan cara demikian kita akan
menghasilkan buah Roh yang Allah ingin lihat itu ada dalam kehidupan setiap
anak-anakNya.
Dengan demikian, jika kita mau
membentuk karakter Kristen dalam hidup kita, kita perlu belajar mengenal Tuhan
lebih dalam lagi. Mengenal pribadiNya, pikiran-Nya, kehendak-Nya, semuanya itu
bisa kita lakukan ketika kita melalukan pembacaan dan perenungan Firman Tuhan
dalam hidup sehari-hari.
2. Melakukan apa yang dipahami.
Tahu sesuatu, tidak identik dengan
menjadi sesuatu. Ketika kita membaca Firman Tuhan, maka kebenaran itu
memerdekakan kita. Tetapi kita hanya benar-benar merdeka, ketika kita melakukan
Firman Tuhan dalam kehidupan kita. Dengan cara demikian kita menyatakan melawan
daging dan tunduk kepada pimpinan Roh. Sehingga, kitapun terbebas dari
keinginan daging yang mencoba menguasai kita (Gal 5:16-18).
Nah, bagaimana kita belajar
melakukan apa yang kita pelajari dari Firman Tuhan? Pertama, belajar menyangkal
diri di dalam kesulitan. Ketika ada kesulitan menghimpit, belajar untuk tidak
membicarakannya kepada orang lain terlebih dahulu, melainkan harus menyangkal
diri. Belajarlah untuk menanggung kesulitan itu sendiri. Jika kesulitan itu
benar-benar tidak bisa kita atasi, kita boleh menceritakan (berbagi) kepada
orang lain. Jika memang tetap tidak bisa, berdoalah kepada Tuhan dan percayalah
Ia akan memberikan kekuatan ekstra kepada kita untuk menghadapi kesulitan itu.
D. Sosialisasi Pendidikan Karakter
-
Dibentuk sejak usia dini
-
Peran Ortu dan
lingkungan dominan
-
Mengembangkan suara hati
anak peke terhadap lingkungan
-
Komitment orang tua
membentuk karakter dgn nilai kekristenan
-
Pemimpin harus punya
komitment untuk meniru Kristus
-
Karakter harus dikonsep
secara ideal untuk generasi muda
-
Memberi Norma yang
dibakukan
-
Memodelkan orang tua
sebagai Panutan
-
Diajarkan secara
berulang-ulang
-
Keaktifan anak untuk
memilih Nilai
-
Menjadi habit
-
Interaksi keladanan dan
membentuk kondisi lingkungan yang kondusif
-
Orang tua harus memberi
hidupnya bagi anaknya.
BAB II
Pola Pikir Kristiani
Beberapa definisi
mengenai apa yang dimaksud dengan pola pikir atau pola pandang (world view).
James Sire mengatakan ‘pola pandang adalah serangkaian asumsi yang kita pegang
(sadar atau tidak sadar) mengenai bagaimana kita melihat dunia kita. Phillips
dan Brown mengatakan bawaha pola pandang adalah suatu penjelasan
dan penafsiran mengendai dunia dan penerapan dari aplikasi tersebut pada
kehidupan. Singkatnya, pola pandang adalah pandangan terhadap dunia dan bagi
dunia. Itulah sebabnya, pola pandang atau pola pikir digambarkan seperti lensa
atau kacamata.
Pentingnya pola pikirKarena pola pikir itu bagaikan kacamata yang akan mengarahkan kita dan mempengaruhi kehidupan dan tindakan kita, maka seperti halnya kita perlu memilih kacamata yang tepat, mempunyai pola pikir yang benarpun dibutuhkan. Jika mempunyai pola pikir yang salah, dampaknya bisa buruk bahkan mungkin merusak diri atau lingkungan.
Arthur Holmes menyatakan bahwa ada empat pentingnya pola pikir: ‘untuk menyatukan pikiran dan kehidupan, untuk mendefinikan kehidupan yang baik dan menemukan harapan dan makna hidup, untuk memberikan bimbingan pada buah pikiran, dan memberikan bimbingan pada setiap
tindakan kita. Selain itu kita perlu mempunyai pola pikir yang baik untuk menolong kita menghadapi multi budaya yang semakin berkembang. Masuk dalam era globalisasi, kita dibombardir dengan berbagai budaya berikut pola pikir yang ada dibaliknya. Semua menganggap diri benar dan menyatakan budaya tersebut sebagai kebenaran. Kita ditantang untuk memilah pola pikir yang bercampur aduk itu dengan hikmat dan menemukan kebenaran yang hakiki atau kita akan terseret oleh arus dunia tanpa tahu dimana kaki harus berpijak. Pola pandang yang benar akan menolong kita dengan mengarahkan kita dengan melatih akal budi kita secara kritis. Rm 12:1-3 mengingatkan kita agar memperbaharui akal budi sehingga kita bisa memilah dan memilih apa yang baik, yang benar dan yang berkenan kepada Allah. Itulah ibadah kita yang sejati. Maka, ibadah yang sejati dimulai dengan pembaharuan akal budi, pembaharuan pola pikir. Karena Pola pikir akan mempengaruhi hati, kehendak, dan dengan demikian mempengaruhi keputusan dan tindakan yang kita ambil. Pola pikir akan mengarahkan arah hidup, kemana kita melangkah.
Pola-pola pandang adalah bagian kehidupan kita yang kita lihat dan dengar sehari-hari entah kita sadari atau tidak. Contohnya, film, televise, musik, majalah, koran, pemerintahan, pendidikan, ilmu, seni, dan berbagai aspek budaya lainnya dipengaruhi oleh polah pandang. Jika kita mengabaikan pentingnya pola pandang, maka kita mengabaikan kehancuran atau keterhilangan yang akan kita tuai.
…….
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Peran
Agama Kristen diharapkan menghasilkan dapat menghasilkan individu-individu yang
menjadi garam dan terang ditengah-tengah masyarakat yang ditekankan dalam
bentuk pendidikan nilai (budi pekerti atau value education), memeliki kesadaran berani mengambil sikap
positif demi masa depan bangsa yang bertujuan untuk mewujudkan warga negara yang baik (Good Cetizen) dengan kriteria
bersedia memberikan hidupnya untuk kepentingan bangsa dan negara sesuai dengan
profesinya masing-masing.
Nilai agama yang diberikan, harus
diintegrasikan dalam seluruh jiwa dan melekat pada setiap individu seperti
nilai kebebasan, persamaan, persaudaraan, kesatuan (liberty, equality, fraternity, unity),
demokrasi-demokratisasi, kebangsaan, kebhinekaan, pluralisme.
Demikian
juga dengan peran agama dalam pembentukan karakter individu itu sendiri
merupakan hal yang sangat penting guna menumbuhkembangkan iman kerohanian
masing-masing pribadi agar sesuai dengan karakter Tuhan itu bagaimana
sebenarnya.
Yesus sendiri merupakan tokoh pluralisme
sejati, Ia sendiri telah meneladani murid-muridnya untuk mengasihi sesama
manusia seperti dirnya sendiri. Melalui perumpamaan Orang Samaria yang baik
hati, Ia telah menjelaskan sikapnya bahwa sebagai warga masyrakat pengikutnya
harus mengasihi sesama dengan totalitas hidupnya, tidak memandang suku, antar
golongan, ras dan agama.
Oleh karena itu pendidikan pluralisme
merupakan tututan yang harus ditindaklanjuti oleh setiap orang Kristen dalam
rangka misi sebagai pembawa kabar damai sejahtera dan damai sejahtera dalam
hidupnya. PengajaranNya sangat peduli terhadap manusia; yang sakit disembuhkan,
yang lapar dicukupkan, yang mati dibangkitkan, dan yang lumpuh bisa berjalan
serta yang buta melihat. Injil pada dasarnya monolak agama verbalistik,
formalisme, tetapi mengutamakan iman dan perbuatan. Ajaran Yesus memerintahkan
agar setiap muridNya; mempu mengekspresikan imannya dalam kepedulian terhadap
sesama manusia yang paling membutuhkan . Dengan demikian setiap pengikutnya
terpanggil untuk mengahdirkan syalom Allah dalam kehidupan masyarakat merupakan
salah satu hakekat iman Kristen.
DAFTAR PUSTAKA
http://abdain.wordpress.com/2010/01/03/pengertian-agama/
http://wikipedia.com/pengertian karakter/
http://www.google.co.id/#sclient=psy-ab&hl=id&site=&source=hp&q=KONTRIBUSI+PENDIDIKAN+AGAMA+KRISTEN+DALAM+MEMBENTUK+WATAK+ANAK+USIA+DINI&pbx=1&oq=KONTRIBUSI+PENDIDIKAN+AGAMA+KRISTEN+DALAM+MEMBENTUK+WATAK+ANAK+USIA+DINI&aq=f&aqi=&aql=&gs_sm=e&gs_upl=1442l1442l0l1766l1l1l0l0l0l0l0l0ll0l0&bav=on.2,or.r_gc.r_pw.,cf.osb&fp=c8d20b98c85fb91a&biw=1366&bih=542
Tidak ada komentar:
Posting Komentar